Rabu, 17 September 2014

Sahabatku Kekasihku





Betapa enak menjadi orang kaya. Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia. Seperti Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil mewah dengan supir pribadi.

Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul. Seperti pada kawan kawan Iwan yang datang ke rumahnya. Mereka menyambut seolah keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcYPFbOndukcymFj__wlUWVXxVCDBtdu8_MXaUYzoOeN2JeyCw47PlLDi5so4N3NiHHNa16U1MxDdh73rhvgxndXy_XwxcVy8crGsaNKg0_Cdy0bk09-q0ElKBDnNkHLqyN25ZyMD02H8/s1600/Cerpen+Persahabatan.jpg
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat setia. Namanya Momon. Rumahnya masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.

“Ke mana, ya,Ma, Momon. Lama tidak muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu datang.”

“Mungkin sakit!” jawab Mama.

“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat

Sudah tiga kali pintu rumah Momon diketuk Iwan. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Iwan menanyakan ke tetangga sebelah rumah Momon. Iamendapat keterangan bahwa momon sudah dua minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Momon di-PHK dari pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah lagi.

“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam hati,

Di rumah Iwan tampak melamun. Ia memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia selalu murung.

“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa menegur

“Momon, Pa.”

“Memangnya kenapa dengan sahabatmu itu. Sakitkah ia?” Iwan menggeleng.

“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.

“Momon sekarang sudah pindah rumah. Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK. Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Iwan tampak tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.

“Kalau Papa tidak percaya, Tanya, deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.

“Lalu apa rencana kamu?”

“Aku harap Papa bisa menolong Momon!”

“Maksudmu?”

“Saya ingin Momon bisa berkumpul kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak.

“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu harus mencari alamat Momon di desa itu!” kata Papa.

Dua hari kemudian Iwan baru berhasil memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang. Ini karena berkat pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon. Kemudian Iwan bersama Papa datang ke rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam. Bisa di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon ketika bertemu dengan Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu. Semula Momon agak kaget dengan kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau Iwan inginberkunjung ke rumah Momon di desa.

“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat memberi tahu kamu!”

“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”

Setelah omong-omong cukup lama, Papa menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua Momon tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.

“Begini, Mon, kedatangan kami kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami menganggap kamu itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” Tanya Papa.

“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa, “kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan menanggung.”

“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”

Kemudian Iwan bangkit dari tempat duduk lalu mendekat memeluk Momon. Tampak mata Iwan berkaca-kaca. Karena merasa bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan. Kini Momon tinggal di rumah Iwan. Sementara orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga merawat nenek Momon yang sudah tua.

Sahabat Sejati

Ketika seorang sahabat sejati bertanya kepada sahabatnya, “apakah aku pernah melakukan salah padamu?“.
Sahabatnya akan menjawab, “ya, tapi aku sudah melupakan kesalahanmu“.

Ketika seorang sahabat sejati berbalik bertanya kepada sahabatnya, “apakah aku pernah bersalah padamu?“.
Sahabatnya akan menjawab, “ya, tapi aku sudah lupa akan hal itu“.

Ketika seorang bertanya, “Apa yang telah kau lakukan untuk sahabatmu?“
Seorang sahabat akan menjawab, “Aku tidak tahu.” sebab seorang sahabat tidak pernah meminta imbalan dari apa yang telah di perbuatnya dengan tulus.

Ketika seorang sahabat sejati memarahi sahabatnya, dan sahabatnya bertanya, “mengapa kamu memarahiku?“
Sahabatnya akan menjawab, “demi kebaikanmu“.

Ketika seseorang bertanya, “apakah alasanmu menjadi sahabatnya?“
Ia akan menjawab, “tidak tahu“. Sebab sahabat yang sejati tidak pernah memanfaatkan, tidak pernah memandang kelemahan dan kelebihan.

Ketika kau jatuh, ia akan berusaha menopangkan tangannya supaya kau tidak tergeletak.
Ketika kau bersuka, ia akan berada disisimu dan turut merasakan kebahagiaanmu.
Ketika kau berduka, ia akan berada disampingmu, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara menghiburmu. Tetap mendengarkanmu, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutmu, meskipun kau hanya mengaduh dan meskipun ia tidak tahu bagaimana solusi masalahmu.
Ketika kau mengatakan cita – citamu, ia akan mendukung dan berdoa untukmu.
Ketika ia bersuka, kau juga akan bersuka karenanya.
Ketika ia berduka, kau yang ada di sampingnya.

Sahabat adalah memberi tanpa ada maksud di belakangnya, bukan hanya menerima.
Sahabat tidak pernah membungkus racun dengan permen manis.

Persahabatan tidak diukur oleh berapa lamanya waktu, tetapi berapa besar arti ‘persahabatan’ itu sendiri.
Persahabatan tidak diukur oleh materi, tetapi berapa besar pengorbanan.
Persahabatan tidak diukur dari kesuksesan yang di peroleh, tetapi dari berapa besar dukungan yang di berikan.

Ia dapat menyayangimu, bahkan lebih dari dirinya sendiri.

Persahabatan tidak pernah mulus. Tetapi yang membuat indah adalah ketika mereka berhasil menjalaninya bersama, meskipun harus melalui pertumpahan air mata.

Hal yang paling membuat sahabatmu sedih adalah ketika kamu, sebagai seorang sahabat, membohonginya dengan alasan apapun. Sebab ia sangat percaya padamu.

Hanya satu yang sahabatmu minta kepadamu : supaya ia menjadi bagian hidupmu.

Persahabatan Terbaik

Acara televisi sore ini tak satupun membuat aku tertarik. Kalau sudah begini aku bingung entah apa yang harus aku lakukan. Tio bersama Sany kekasihnya, sahabatku Ricky entah kemana? Mall, bioskop ataupun perpustakaan, bukan tempat yang aku suka, apalagi mesti pergi sendirian.

mmm…Pantai.

Ya pantai. kayaknya hanya pantailah, tempat yang mampu membuat aku merasa damai dan tak aneh jika aku pergi sendirian.


Kuambil jaket, lalu kusamber kunci dan pergi menuju garasi. Kukendarai mobil mama yang nganggur di sana. Papa dan mama lagi keluar kota, jadi aku bisa keluar dan mengendari mobilnya dengan leluasa.

Terik panas masih menyengat, walaupun waktu sudah menjelang sore. Namun tak membuat manusia-manusia di Ibukota berhenti beraktivitas meskipun di bawah terik matahari yang mampu membakar kulit. Jalan-jalan macet seperti biasanya. Dipenuhi mobil dari merek ternama ataupun yang sudah tak layak dikendarai.

Lalu di depan kulihat pemandangan lain lagi. Pedagang kaki lima duduk lesu menunggu pelangannya.

Krisis yang melanda membuat banyak orang hati-hati melakukan pengeluaran, bahkan untuk membeli jajan pasar.Walaupun tak seorang yang menghampirinya, namun dia tetap semangat menyapa orang-orang yang lewat dan akhirnya ada juga satu pembeli yang menuju arahnya.

Sekilas kulihat orang itu kok mirip sekali dengan Ricky. Kugosok-gosok mataku, menyakinkan pandanganku. Kutepikan mobilku, lalu aku berhenti di tepi jalan itu. Dengan setengah berlari, aku mengejar sosok itu.

Ah…kendaraan sore ini banyak sekali, sehingga membuat aku kesulitan untuk menyeberang jalan ini. Tapi akhirnya terkejar juga, dengan nafas tersengal-sengal, kujamah bahunya.

“Ky!” seruku tiba-tiba, sehingga membuatnya terkejut.

“Anda siapa?” tanya Ricky pura-pura tak mengenalku.

“Ky. Sekalipun kamu jadi gembel , aku akan tetap menggenalmu.” jelasku mendenggus kesal.

“Sudahlah, Sophia, jangan membuat aku terluka lagi.” tukasnya begitu sinis seraya beranjak pergi.

“Ky…Ky…knapa kamu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku!” teriakku sekeras-kerasnya. Namun bayangan Ricky semakin menjauh dan akhirnya tak kelihatan.

-----

Ricky, Tio dan aku adalah sahabat karib dari kecil. Setelah tumbuh besar, aku tetap mengganggap Ricky adalah sahabat terbaikku, tapi Ricky punya rasa berbeda dari persahabatan kami. Yang aku cintai adalah Tio. Ini yang membuat Ricky menjauhiku. Tapi yang Tio cintai bukan aku, tapi Sany, teman sekelasnya.

Cinta, sulit di tebak kapan dan di mana berlabuh!

Banyak orang tak bisa terima, jika cintanya ditolak, tapi bukankah cinta tak mungkin dipaksa?

Tak mendapatkan cinta Tio, tak membuatku menjauh darinya, tapi aku akan tetap menjadi sahabat baiknya. Walaupun ada sedikit rasa tidak puas, kadang rasa cemburu menganggu hati kecilku, saat kutahu untuk pertama kali, orang yang Tio cintai adalah orang lain.

Aku harus bisa menerima keputusannya , walaupun terasa berat . Bukankah, kebahagian kita adalah melihat orang yang kita cintai hidup berbahagia, baik bersama kita atau tidak?

Tapi tidak dengan Ricky, dia lebih memilih, meninggalkanku, mengakhiri persahabatan manis kami. Pergi dan aku tak pernah tahu kabarnya. Tapi apapun yang terjadi, aku akan selalu berharap suatu saat kami akan dipertemukan lagi.

Karena bagiku, cinta dan persahabatan adalah dua ikatan yang sama. Ikatan yang tak satupun membuat aku bisa memilih satu diantaranya.

-----

Sudah seminggu, setiap hari, aku datang kepersimpangan ini. Berharap bisa melihat sosok Ricky lewat disekitar sini lagi. Tapi, Ricky hilang bagai ditelan bumi. Aku hampir putus asa.

Aku sudah capek menunggu, akhirnya aku bangun dan ingin beranjak pergi. Knapa tiba-tiba, indera keenamku, memberiku insting, kalau Ricky ada di sekitarku.

Kubalikan kepala, kulihat sosok Ricky setengah berlari menyeberang jalan di belakang posisiku. Aku berlari menggejar sosok itu. Kuikuti dia dari belakang. Aku pingin tahu dimana dia berada sekarang.

Akhirnya kulihat Ricky, masuk ke sebuah gang kecil, kuikuti terus , sampai akhirnya dia masuk ke sebuah rumah yang sangat sederhana.

“Knapa Ricky lebih memilih hidup disini, daripada di rumah megah orangtuanya?”

”Knapa dia, tinggalkan kehidupannya, yang didambakan banyak orang?”

”Knapa semua ini dia lakukan?”

“Knapa?”

Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.

Setelah dia masuk kurang lebih 10 menit, aku masih berdiri terpaku dalam lamunanku, dengan pertanyaan-pertanyan yang jawabanya ada pada Ricky. Aku dikejutkan suara seekor anak anjing jalanan, yang tiba-tiba menggonggong.

Aku memberanikan diri memencet bel di depan rumahnya itu.

“Siapa?” terdengar suara dari balik pintu.

Aku diam, tak memberi jawaban. Setelah beberapa saat aku lihat Ricky pelan-pelan membuka pintu. Nampak keterkejutannya saat melihatku, berada di depannya.

“Ky…boleh aku masuk?” tanyaku hati-hati.

“Maukah kamu memberikan sahabatmu ini, segelas air putih.” ujarku lagi.

Tanpa bicara, Ricky mengisyaratkan tangannya mempersilahkan aku masuk. Aku masuk keruangan tamu. Aku terpana, kulihat rumah yang tertata rapi. Rumah kecil dan sederhana ini ditatanya begitu rapi, begitu nyaman. Kulihat serangkai bunga matahari plastik terpajang di sudut ruangan itu.

“Ricky, kamu tak pernah lupa, aku adalah penggagum bunga -bunga matahari.” gumanku.

Dan sebuah akuarium yang di penuhi ikan berwarna-warni, rumput-rumput dari plastik dan karang-karang di dalamnya. Ricky tahu betul aku penggagum keindahan pantai dan laut. Walaupun hal-hal ini dulunya, setahuku, kamu tak menyukainya. Kulihat juga banyak foto persahabatan kami yang di bingkainya dalam bingkai kayu yang sangat indah, terpajang di dinding ruang tamu ini.

Bulir-bulir air mataku, perlahan-lahan mulai tak mampu aku bendung. Aku benar-benar terharu dengan semua yang Ricky lakukan. Begitu besar cinta Ricky buatku. Kupeluk dia, yang aku sendiri tak tahu, apakah pelukan ini adalah pelukkan seorang sahabat ataupun sudah berubah menjadi pelukan yang berbeda?

Ricky kaget, namun akhirnya dia membalas pelukanku, dan memelukku lebih erat lagi , seakan-akan ingin menumpahkan segala rindu yang sudah hampir tak terbendung dalam hatinya.

Kami menghabiskan sore ini dengan berbagi cerita, pengalaman kami masing-masing selama perpisahan yang hampir 2 tahun lamanya dan akhirnya Ricky mengajakku makan, ke sebuah restoran kecil yang sering dikunjunginya seorang diri, di dekat rumahnya. Terdengar alunan tembang-tembang romatis , suasana hening, membuat kami terbuai dalam hangatnya suasana malam itu.

---------

Sekarang Ricky sudah tahu, Tio sudah bersama Sany. Kami sekarang menjadi 4 sekawan. Sany juga telah menjadi anggota genk kami.

Ternyata setelah aku mengenalnya lebih lama, Sany adalah sosok yang sangat baik hati, menyenangkan, ramah dan peduli dengan sahabat. Ah…menyesal aku tak mengenalinya lebih dalam sejak dulu.

“Ky , biarlah semua berjalan apa adanya, mungkin cinta akan pelan-pelan muncul dari hatiku.” ujarku suatu hari, saat Ricky mengungkit masalah ini lagi.

“Oke, aku akan selalu menunggumu. Sampai kapapun. Karena tak akan ada seorangpun yang mampu membuatku jatuh cinta . Hanya kamu yang mampu membuat aku damai, tenang dan bahagia.” jelasnya panjang lebar

Sekarang aku memiliki tiga orang sahabat baik. Tak akan ada lagi hari-hariku yang kulalui dengan kesendirian, kesepian dan kerinduan.

Hampir setiap akhir pekan, kami menghabiskan waktu bersama, ke pantai, ke puncak ataupun hanya sekedar berkaroke di rumah sederhana Ricky. Hidup dengan tali persahabatan yang hangat, membuat hidup semakin berarti dan lebih bahagia.

-----

Waktu berjalan begitu cepat. Tiga tahun sudah berlalu. Kebaikan-kebaikan Ricky mampu membuat aku merasa butuh dan suka akan keberadaannya di sampingku. Rasa itu pelan-pelan tumbuh tanpa kusadari dalam hatiku.

Aku jatuh hati padanya setelah melalui banyak peristiwa. Cinta datang, dalam dan dengan kebersamaan.

Apalagi dengan sikap dan perbuatan yang ditunjukannya. Membuat aku merasa, tak akan ada cinta laki-laki lain yang sedalam cinta Riky.

kegalauan anak muda



 

Gue suka heran sama orang-orang yang suka galau karena cinta ditolak. Ada yang langsung update status suram di facebook lah, ngetweet yang enggak-enggak lah, misalnya. "@rahmatabiy semakin ku mencintaimu semakin perih luka ini kurasa kan." Dan gue mikir, ini kok ditolak cinta aja udah kayak ditolak masuk surga, gue pun yakin si pemilik akun itu setelah di tolak sama gebetannya, dia langsung pulang terus mandi di bawah pancuran shower sambil berlinang air mata di iringi lagu paling sedih di dunia, yaitu : Jangan ganggu banci – Project Pop. dan berteriak TIDAAAAAAKKKKKKKKKK!!!!!! 


Dan sayangnya, hal-hal semacam itu juga dialamin sama temen-temen gue.Pernah suatu kali di lingkungan kampus yang nyaman dan asri, burung-burung berkicau dengan ceria, kupu-kupu juga beterbangan kesana-kemari dengan riang gembira. Beda sama yang gue rasain begitu masuk ke koridor kampus, tampak wajah-wajah mahasiswa yang tidak ceria, suram, dan terkadang ada wajah-wajah panik karena tugas yang belum kelar.


Biasanya orang-orang yang mengalami kejadian seperti itu  ditandai dengan :
1.  Wajah terlihat panik dan Pandangan mata tidak fokus.
2.  Yang keluar dari mulutnya Cuma kata “bagaimana..GIMANA DONG..GIMANA DONG?!”
3.  Keluar busa dari mulutnya, dan Liur yang berlebihan.
4.  mereka pun menggonggong dengan keras sambil menggigit siapapun yang mendekat (YA ENGGAK LAH! EMANG RABIES?!)


Gue yang waktu itu baru sampe kampus langsung duduk di anak tangga ke dua dari atas. Pas lagi asik-asiknya nungguin dosen sambil OL lewat hape gue. Tiba-tiba temen gue dateng sesenggukan, hidungnya merah berair, matanya sembab. Mirip badut dufan yang abis digebukin massa gara-gara kepergok nyolong kancut tetangga dan dijual buat beli Momogi.
Temen gue ini punya nama yang unik, namanya jamal Wirawan Subrata, dan gue sering manggil dia dengan nama jamal Hewan Avertebrata.

‘kenapa lo jem’ tanya gue penasaran. jamal diem aja, dia sibuk ngelapin ingusnya, dan gue perhatiin, Tissue yang dia pake tadi sudah basah banget gara-gara produksi ingus yang berlebihan, dan dengan volume ingus sebanyak ini gue pun berasumsi bahwa jamal suatu hari bakalan sukses menjadi seorang pengusaha garam terbesar di indonesia, dengan nama produknya “Garam Cap Ingus : garam alami dari hidung bos kami” gue pun bimbang, gue bingung harus kabur atau terjebak di anak tangga bersama jamal dan ingusnya.

Setelah beberapa saat diam sambil ngelapin ingusnya, dan sesekali lidahnya naik ke arah idung, terus setelah itu mukanya kayak ngeluarin ekspresi seolah-olah dia keasinan, dia pun ngomong.

 ‘gue ditolak mat’ jawab jamal dengan suara parau.

WHAT .....??! Gue ingin tertawa sekencang-kencngnya waktu dengar itu dari mulut dia, tapi dengan kondisi yang lagi galau begitu, gue punya 2 kemungkinan kalo gue nekad ngetawain
Jamal .

1. Jamal akan marah dan nyumpel mulut gue dengan Tissue bekas lap ingusnya. Dan akhirnya gue pun tewas dengan mulut penuh ingus.
OR 
2. Jamal bakal marah dan nyodorin Tissuenya kearah gue, dan karena panik, gue pun jatuh dari tangga dan tewas dengan keadaan leher patah 3 bagian sama rata.

Akhirnya gue pun mengurungkan niat gue untuk tertawa, yang ada gue bisa mati dan akhirnya malah mayat gue yang ditertawakan sama seluruh rakyat indonesia.

‘lo ditolak? Sama siapa?’ tanya gue, berusaha terlihat cool.

‘gue ditolak sama, bela’ jawab Jamal lesu.

Gue pun mencoba mengingat-ingat nama bella, siapakah bella? Apakah dia mahasiswi di kampus ini? Apa benar Titit Burung Unta lebih besar dari lehernya sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam pikiran gue. Kecuali yang terakhir.

Dan setelah gue mencari-cari siapakah sebenarnya makhluk bernama bela itu, Voila! gue pun mendapatkan  petunjuk-petunjuk yang mencengangkan.
‘maksud lo bela yang assisten Lab itu?’ tanya gue penuh kecurigaan.

Gue berfikir sebentar, mencoba menganilsa kenapa temen gue bisa jatuh cinta sama bella yang tampang nya jauh banget sama Jamal.
OH MY GOD!! Harus nya lo itu sadar siapa lo dan siapa bella ? kata kata w yang so bijak . 

Setelah melihat kejadian tadi, gue pun mikir, emang segitunya rasa sakit hati yang disebabkan pada saat lo ditolak sama orang yang udah lama lo suka. Bahkan ada yang sampe trauma dan gak pernah mau nyatain perasaannya lagi ke orang yang dia suka.
 “cinta emang sulit dimengerti” pikir gue.

 setelah kejadian tadi dikelas , Jamal yang sedih gara gara ditolak bellla ..gue jadi teringat seseorang yang pernah w cintai .kasih yang tak sampai ama si dia …. Lohhhh !!! gue jadi senyum senyum sendiri .

Gak banyak temen-temen gue yang tau kalo waktu itu gue suka sama seorang cewek di kelas gue, namanya Lisa.

Lisa itu, menurut gue cantik, pintar, murah senyum dan baik kesemua temean-temannya tanpa terkecuali.dia mahasiswa yang paling aktif kalo pelajaran prose ,IP nya itu selalu bagus .
 Beda banget sama gue, yang sering tidur saat pelajaran prose .. 


***Senin 10 Januari.

gue berencana buat nembak Lisa, soalnya gue rasa udah terlalu lama gue pendem perasaan ini, kayak kucing yang mendem EEK’ nya di dalem pasir. Gue udah pendem perasaan ini 3 tahun, sejak kelas 1 sampe kelas 3. "Pokoknya gue harus bilang hari ini juga! Harus! Gue gak mau mendem-mendem perasaan ini kayak kucing yang mendem EEK nya di dalem pasir terus menerus, pokoknya gue harus tunjukin EEK gue!! Eh salah, perasaan gue!!" Pikir gue saat itu.

Bell istirahat pun berbunyi.

Gue nyamperin Lisa yang waktu itu lagi duduk sambil baca buku, sementara anak-anak yang lain pada keluar menuju kantin, Cuma kita berdua yang ada dikelas saat itu.

Perlahan-lahan gue deketin Lisa, merasa ada makhluk yang mendekat, Lisa langsung nengok, mata kita bertemu, mirip adegan di sinetron-sinetron, rambut Lisa terbang-tebangan di permainkan angin, begitu juga gue, gue pun senyum, Lisa ketakutan.

‘hai Lis’ sapa gue gugup. Kaki gue gemeter, sampe-sampe gue gak bisa ngerasain dengkul gue sendiri.

‘hai Fiz, ada apa ya?’ Lisa bertanya ke gue sambil melemparkan senyum manisnya yang gak akan pernah gue lupa, betapa deg-degan nya gue di lemparkan senyum semanis itu. maklum gue biasa di lemparkan batu bata, gara-gara kepergok nyolong mangga pak RT.

‘hmmmhh emhhh hmmmm’ gue gugup, gue gak bisa ngomong, dan suara gue yang terus-terusan ketahan itu kedengeran kayak miyabi yang lagi adegan sama Gajah afrika.

Lisa ngeliatin gue keheranan. seakan-akan dia bilang "Hewan macam apa ini?!"

‘emmhhh pulang sekolah nanti lo mau gak jalan sama gue?’

MAMPUS GUE!! pengen mati rasanya waktu gue ngomong kayak gitu ke Lisa. Gue takut dia nolak ajakan gue, gue bingung harus ngapain kalo dia nolak? Apa gue harus teriak “HAHAHAHAHA KENA LO!!! GUE CUMA BERCANDA LAGI!!” dengan mulut yang berbusa. Atau gue harus kayang terus lari-lari keliling lapangan sekolah tanpa busana sambil gigitin siapapun yang mencoba mendekat, dengan (tetep) mulut yang berbusa.

MEMALUKAN.

Tapi tuhan ternyata berkehendak lain.

‘hmm boleh, kebetulan gue lagi senggang nih’
Gue surprise banget waktu denger jawaban Lisa, pengen banget rasanya gue nari poco-poco di depan
Lisa sambil diiringi lagu metal sebagai wujud kebahagiaan gue saat itu.

‘be-be-beneran Lis? Serius?’ tanya gue gak percaya.

‘iya serius Fiz,’ Lisa tersenyum ngeliat tingkah gue yang waktu itu udah kayak monyet sirkus yang abis nelen petasan.

‘emang’ Lisa ngelanjutin. ‘Kita mau kemana Fiz?’

JEGGGERRRRRR!!!!!!

Bagaikan petir di siang bolong yang nyamber Sundel Bolong sampe keselek kacang Polong. Pertanyaan
itu bikin gue tercekat. Gue pun baru inget. Bahwa.

GUE BELOM PUNYA PLANNING MAU KEMANA!!!!! BEGO BEGO BEGO!!!

“waduh, kacau!! Bisa berantakan nih!!” pikir gue.

Gue pun punya dua option waktu itu :

1.  Gue bilang ke Lisa kalo gue belom punya planning sambil kayang di atas tiang bendera, dan akhirnya acara gue batal dengan sukses.

ATAU

2.  Gue bilang ke Lisa kalo gue mau ngajak dia nongkrong di taman lawang, sekalian gawe.
Gue pun memtuskan untuk gak mengambil satu diantara dua planning tolol itu. lalu gue berpikir keras. Akhirnya gue mendapatkan ide, yaitu, Nonton.

‘hmm, gimana kalo kita nonton Lis?’

‘oke, boleh juga’ jawab Lisa sambil tetep melemparkan senyum manisnya.

Gue pun senang mendengar persetujuan dari Lisa, dan gue melemparkan senyum najis kearah Lisa. Dan untungnya, Lisa gak tiba-tiba koma.

***Bell pulang berbunyi.

Gue dan lisa menuju tempat dimana mobil gue diparkir, sesampainya di tempat parkir,  dengan gaya ala gentleman gue pun membukakan pintu untuk Lisa dan mempersilahkannya untuk masuk duluan, disusul oleh gue. jantan sekali gue waktu itu.

Di dalam perjalanan menuju bioskop tempat gue dan Lisa bakal nonton, Lisa banyak bercerita tentang hari-harinya di rumah dan kejadian-kejadian lucu disekitarnya. Gue pun gak mau kalah, gue juga banyak bercerita kepada Lisa tentang gimana caranya mengawetkan mayat.

Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 45 menit, kita pun sampai ditempat tujuan.

***Di dalem bioskop.

‘Fiz kita mau nonton film apa?’ tanya Lisa.

‘gue lagi pengen nonton film Horror thriler nih Lis, gimana menurut lo?’

‘oke juga’ Lisa mengiyakan.

Gue pun bingung milih film apa, sampai akhirnya...

‘Oke kita nonton kungfu-panda!’ teriak gue.

Lisa Cuma ngeliatin gue dengan tatapan yang seolah-olah bilang “SUMPEH LOH NYET?!”

Sehabis membeli tiket, kita pun dapet tempat duduk yang bersebelahan. Setelah menunggu sekitar 5 menit, kita pun masuk kedalam studio.

Sepanjang diputernya film Kungfu-panda gue sering teriak-teriak histeris ketakutan waktu Poo ngelawan musuhnya, sedangkan Lisa anteng-anteng aja. Mungkin pengunjung lain bertanya-tanya “emang ke dalem bioskop boleh bawa lutung ya?”

Setelah film selesai, gue pun keluar studio dengan wajah puas.

‘seru ya Lis film nya, hehehe’

‘hmmmm’ Lisa Cuma mendehem sambil buang muka, kayaknya dia malu nonton sama gue.

Selesai nonton film yang sepanjang adegannya dihiasi oleh teriakan-teriakan gue yang kedengeran mirip lutung yang mau disunat. Kita pun memutuskan untuk pulang. Dan disinilah moment itu akan terjadi, gue bakal nembak Lisa....oke gue ulang sekali lagi GUE BAKAL NEMBAK LISA!!! (biar dapet efek dramatisnya).

Di tengah perjalanan pulang.

Lisa keliatan sibuk banget sama BB nya, kayaknya dia lagi BBm-an sama temen-temennya. alhasil gue pun dicuekin, gak mau BB jadi penghalang buat cinta gue, gue pun langsung ngomong.

‘Lis’ kata gue, sambil Deg-deg-serrr.

‘apa?’ tanya lisa, tapi matanya tetap terfokus sama BB nya.

‘hmmmm mhhhh....hmmmm’ gue grogi, bukannya ngomong, gue malah mendesah, kayak phedophil yang lagi liat adegan bercinta Spongebob dan Patrick di kamar Squidward, di tonton oleh Gerry, tuan Krab dan warga Bikini Bottom lainnya.

‘Lo kenapa sih? Kok mendesah-mendesah gitu? Ihh’ Lisa mengeluarkan expresi setengah ilfilnya.

‘mmm,jadi...gue kan udah lama kenal sama lo, dan lo juga udah lama kenal sama gue, mmm jadi sebenernya, selama ini gue itu nympen perasaan yang lebih sama lo, hmmm lo mau gak jadi pacar gue?’

AKHIRNYAAAAAAA!!!!! Teriak gue dalam hati.

“Akhirnya gue bisa bilang juga. Oke sekarang tinggal tunggu kepastian dari dia aja, diterima atau enggak, kalo diterima ya syukur, kalo ditolak ya, gue mau bunuh diri aja” pikir gue.

‘l-lo s-suka s-sama g-gue?’ Lisa keliatan grogi, keliatan dari cara ngomongnya yang tiba-tiba jadi mirip Azis Gagap.

‘i-i-i-iya Lis’ gue jadi ikut-ikutan grogi.
Kak Seto juga ikutan grogi.
Andika Kangen band juga pengen ikutan grogi.
(darimana datangnya dua makhluk ini?!)

***Hening

Lisa keliatan diem sambil nunduk, gue juga nyetir sambil nunduk (YA ENGGAK LAH!!)

Sampe akhirnya Lisa ngomong.

‘ummm Fiz, sebelumnya sorry ya’

JEGERRRRRRRRRR!!!!! KENAPA HARUS PAKE KATA SORRY!!?

Firasat gue tiba-tiba jadi gak enak. Sama gak enaknya dengan pemandangan ketika gue lagi ngaca.

‘jadi’ Lisa ngelanjutin. ‘gue selama ini Cuma anggep lo sebagai temen gue aja, gak lebih, sorry ya fiz’

Gue shock! Tangan gue lemes, kaki gue juga lemes, sampe Kak Seto dan Andika Kangen Band ikutan lemes (ini makhuk dateng darimana sih?!).

gue ditolak, hancur sudah masa depan gue. HANCUR SUDAH MUKA GUE!!!

Mata gue pun kunang-kunang, gue mulai berhalusinasi “siapa gue? dimana gue? apakah ini nyata? gue ganteng gak? Kenapa Rafi ahmad dan yuni shara putus? apa benar titit Burung Unta lebih besar dari lehernya sendiri?” pertanyaan-pertanyaan itu menggema diotak gue.

‘Fiz, lo gak papa kan? Sorry banget ya’ Lisa membuyarkan lamunan gue.

‘i-iya Lis, gak papa kok, hehe kita kan masih bisa temenan, gue gak papa kok’ gue berusaha terlihat tegar setegar rosa waktu nyanyi lagu tegar, dan setegar chakra khan waktu nyanyi takkan menyatu, padahal sebenarnya dalam hati gue teriak. YA TUHAN!! AMBIL AKUUUUU!!! JEGEEERRRRRRR!! : dan suara petir pun bersahutan.

Dan akhirnya selama sisa perjalanan itu pun praktis kita diem-dieman, Lisa sibuk sama BB nya, sedangkan gue sibuk nahan ingus sama air mata gue yang udah diujung tanduk.

Gue pun tersadar dari lamunan gue tentang kenangan-kenangan gue semasa SMA, pengalaman gue ditolak gebetan gue. ternyata rasanya emang sakit, dan begitu mengiris, seakan-akan kita berpikir bahwa kita eamng gak pantas buat dia, dan kita gak akan punya kesempatan buat dapetin dia.

Tapi dibalik itu semua, gue sadar, bahwa kita gak bisa melulu terhanyut dalam kesedihan karena ditolak gebetan. Karena cepat atau lambat kita kan menemukan lagi seseorang yang lebih menarik buat kita, dan saat itu terjadi, kita akan lupa tentang kejadian yang sudah-sudah.